Toleransi dan Ketaatan Beragama


Saat SD saya punya dua orang teman Nasrani, Cina. Kami semua berteman baik. Main bareng-bareng, ngerjakan tugas bareng, selayaknya teman sekolah. Seingat saya mereka dapat pelajaran agama sendiri. Kalau waktu pelajaran agama Islam, mereka dibebaskan mau tetap di kelas bersama kami semua, atau keluar kelas. Kami yang muslim tidak pernah mengucapkan selamat natal. Teman saya juga tidak pernah mengucapkan selamat idul fitri. No problem.

Saat SMP saya juga punya beberapa teman Nasrani, dan sebagaimana pas SD. Tidak ada masalah yang berarti tentang perbedaan keyakinan kami.

SMA kelas 2 saya sebangku dengan Herlina, Cina Nasrani. Saat itu saya sudah memakai kerudung. Saya bisa bilang we were weird combo. Bagi saya, sebuah keberuntungan bisa sebangku dengan orang yang sama gilanya hehe She’s blunt. Langsung ngomong apa yang ada dalam pikirannya, tanpa tedeng aling2. Baik hati juga karena sering bawa makanan (mamanya catering). Dia termasuk taat beragama, rajin ke Gereja. Dan meski kami sangat akrab, saya tidak pernah juga mengucapkan selamat natal. Dia juga tidak mengucapkan selamat Idul Fitri. Tapi itu tidak mengurangi persahabatan kami. Dan sebenarnya tidak ada hubungannya dengan itu juga.

Kuliah, teman-teman semakin beragam. Baik budaya dan agamanya. Beberapa teman ada yang bercadar. Ada yang tidak mau memandang langsung pada perempuan dsb. Intinya semua tumplek blek disitu. Tidak ada persoalan juga.

Beberapa tahun terakhir saya ngekos dengan bapak Ibu kos yang beragama Hindu. And they are the best (semua alumni grs17 bisa jadi saksi hehe) Semua anak kos disini muslim berkerudung dan kebanyakan rajin membaca Al Quran sehabis maghrib atau subuh. Bapak kos beribadah pagi sore. Kami terbiasa dengan bau dupa. Kadang ada juga ibadah yang dipimpin pendeta Hindu. Saat nyepi kami tetep bisa menyalakan lampu di kamar dan menjaga sebaik mungkin supaya tetap tenang. Meskipun begitu tidak sekalipun kami mengucapkan selamat hari raya Nyepi. Mereka pun tidak mengucapkan selamat lebaran. Kalau kami unjung2 sehabis libur lebaran, itu lebih seperti menggunakan momen untuk minta maaf pada beliau berdua yang sering kami repoti.

Di kampung, ada seorang Pendeta Kristen. Beliau satu keluarga adalah satu-satunya orang Kristen di kampung. Awalnya dulu muslim, tapi pas remaja masuk Kristen. Tiap kali ada kenduri selalu diundang, dan sering kali ikut. Kalau tidak ikut, pasti dikirimi berkatan. Pak Pendeta ini bukannya ikut berdoa bareng dg yang lain saat kenduri, tapi hadir untuk ngobrol2 dengan bapak2, kemudian diam pas yang lain sedang berdoa (saya nanya bapak saya krn penasaran). Tapi pas kenduri ke masjid pada peringatan HBI beliau tidak ikut. Lah ngapain wong agamanya beda. Saat menjelang Idul Fitri beliau bagi2 parcel ke tetangga. Saat Idul Fitri mereka membuka rumahnya, mereka tidak unjung2 ke kami. Tapi kami yang silaturahmi kesana, unjung2.

Karena semua pengalaman ini, saya jadi merasa aneh dengan konsep toleransi saat ini. Kenapa harus menghilangkan identitas seseorang demi terciptanya kerukunan. Seolah-olah harus begini dan begitu kalau ingin rukun, kalau tidak pasti akan ribut, ricuh dll dsb.. Saya merasa manusia sekarang jadi mirip petugas pos jadul yang pekerjaannya memilah surat dan ngecap surat pake palu.

Konsep semua agama benar adalah hal yang paling menyesatkan buat saya. Kenapa demikian? Karena bagi saya, ketika kita memutuskan memeluk suatu agama, maka itu didasarkan atas kesadaran kita, melalui proses berpikir hingga akhirnya kita memutuskan untuk mengimani suatu agama. Meskipun banyak diantara kita yang kadang “mewarisi” agama itu dari orangtua kita, tetap saja proses selanjutnya kita yang menentukan. Apakah semakin yakin dengan agama ‘warisan’ ini atau menemukan agama lain yang lebih cocok. Itu kalau kita mau berpikir. Karena itu, untuk menjadi seorang muslim yang bertakwa, dia harus yakin bahwa Islam adalah satu2nya agama yang benar. Sehingga dia bisa berIslam secara benar pula. Seorang Nasrani juga seharusnya meyakini bahwa Nasrani adalah satu2nya yang benar, begitu juga agama2 yang lainnya. Para pemeluknya seharusnya yakin pada apa yang dia pilih, kemudian menjalankan yang dipilihnya dengan serius.

Bayangkan kalau konsep semua agama benar ini dijalankan. Hari ini memeluk Islam, besok Kristen, besok Hindu, besok yang lainnya. Coba anda tanyakan, siapa yang mau agamanya dipermainkan seperti itu? Coba tanyakan juga, siapa yang ingin anggota keluarganya murtad? Bukan cuma Muslim. Keluarga Kristen taat pasti sangat marah kalau ada anggota keluarganya yang murtad. Laki-laki di Bali yang keluar dari Hindu bisa dihapus dari silsilah keluarga. Kenapa demikian ?? karena mereka merasa bahwa keluarga yang murtad itu akan celaka. Mereka meninggalkan agama yang diyakini akan membawa keselamatan. Karena mereka yakin bahwa agama yang mereka anut adalah satu2nya agama yang benar. Dan ini adalah naluri beragama yang secara alami dalam manusia.

Karena itu pernyataan Bapak Menag yang menyatakan bahwa terlalu serius dalam beragama bisa menimbulkan intoleransi itu cukup menyesatkan. Karena semakin seseorang serius beragama, seharusnya seseorang akan semakin baik dalam bersikap dan menjalani hidup. Orang yang serius beragama pasti bisa membedakan mana yang menyangkut aqidah, mana yang menyangkut hubungan dengan manusia (muamalah). Orang Nasrani yang taat tidak akan mengharapkan ucapan selamat dari non muslim karena itu bertentangan dengan aturan Islam, dan jika orang Islam melakukannya dia akan terkena dosa. Orang yang taat juga tidak butuh pengakuan kebenaran agamanya dari umat yang lain karena sesungguhnya itu tidak akan berpengaruh pada keseriusan mereka dalam beribadah pada Tuhannya. Dan orang yang taat beragama tidak akan mungkin menghina, mengolok2 atau merendahkan agama dan kepercayaan orang lain.

Islam malah lebih detil lagi mengatur tentang batasan-batasan aqidah dan muamalah. Islam mengajarkan kita berbuat baik kepada tetangga, mengunjungi yang sakit, membantu dan berbuat adil pada siapa saja, tanpa memandang agamanya. Islam melarang merusak tempat ibadah dalam peperangan. Dan semua ini hanya bisa diketahui jika seorang muslim memahami Islam dengan benar.

Kehidupan yang harmonis tidak ada hubungannya dengan pengakuan kebenaran pada semua agama, justru tuntutan untuk mengakui semua agama benar itu yang berbahaya karena menghilangkan sesuatu yang alami dalam diri manusia. Menghilangkan sebuah keberagaman itu sendiri. Toleransi dibentuk dari sikap saling menghormati, dan itu bisa terwujud tanpa menghilangkan identitas diri kita sebagai pemeluk agama tertentu.

Bagaimana dengan pemeluk agama yang ekstrim??

Wahh itu perlu pembahasan tersendiri. Perlu diketahui bahwa semua agama memiliki penganut yang berpandangan ekstrim. Bukan cuma Islam.

Dan jika berbicara tentang ekstrimis Islam, harus diluruskan dulu pengertian ekstrimis ini, karena dalam kondisi saat ini cap ekstrimist fundamentalis bisa dilekatkan pada siapa saja yang menolak pandangan liberal.

Advertisements

~ by zee on 2017/08/05.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: