Catatan 1433 H


Meski agak telat saya mau ngucapkan selamat idul fitri 1433 H buat seluruh umat muslim di dunia.
Happy Ied 14 33 H everyone … May Allah SWT bless all of us …
 

Sepuluh hari terakhir ini saya sudah jadi anak manja di rumah. Leha2, makan, nonton pilem,internetan, ngobrol ngalor ngidul sekeluarga he he .. ga heran kalo sepertinya berat badan sukses nambah beberapa ons.

Liburan kali ini tergolong rekor terlama keluarga kami bisa ngumpul bareng. Biasanya paling banter 6-7 hari kami berempat bisa ngumpul, tapi kali ini 10 hari bo’ .. ga heran mommy happy banget karena pas lebaran ketupat (6 hari setelah idul fitri) anak2nya masih lengkap dan siap menikmati masakan beliau. Maklum saja, soalnya mommy yang paling merana karena sering di tinggal sendirian

Liburan kali ini entah kenapa saya jadi banyak mikir. Mungkin karena banyak waktu senggang jadi terpikir banyak hal yang sebelumnya jarang dipikir. Mungkin bisa dibilang ‘sedikit’ instropeksi lah. Sebelum mudik kemaren, saya sempat mampir takziyah ke salah seorang kenalan yang bayinya meninggal. Bayi yang dinantikan selama hampir 7 tahun. Bayi yang nyaris mustahil dia harapkan karena kondisi kesehatannya yang nyaris tidak memungkinkan.

 

Padahal semua orang menyangka semua akan baik2 saja. Si Ibu yang pada kehamilan pertamanya dulu sakit2an, kehamilan kedua jauh lebih sehat. Ngisi pengajian kemana-mana sampai usia kehamilan 8 bulan. Tapi karena kelambatan penanganan di rumah sakit akhirnya si bayi keracunan ketuban, dan setelah 10 hari dirawat, si bayi pun meninggal.Pas saya ke rumahnya, yang membukakan pintu adalah anak pertama si Ibu yang kelas satu SD. Sejak ibunya hamil, dia senang banget bakal punya adik. Sayangnya si adik yang belum sempat dia gendong sudah diambil kembali oleh pemiliknya. Saya tidak bisa menahan airmata pas si Kakak bilang, “Adikku sudah meninggal kemarin” rasanya seperti ditusuk2. Sakit … Tapi yang luar biasa, kondisi keluarga tersebut sudah tenang. Seluruh anggota keluarga seolah sudah menerima dengan ikhlas takdir tersebut. Si Ibu dengan tegar menceritakan kronologi ceritanya pada saya. Cerita yang mungkin dia ulang2 pada setiap orang yang menemuinya. Ada raut sedih, tapi tidak ada suara yang gemetar atau emosional. Dengan tenang dia menjelaskan betapa bayinya diberkahi. Air susunya lancar, padahal anak pertamanya dulu tidak bisa minum asi karena tidak keluar. Dia terlihat tegar. Subhanallah …

Pas di rumah saya mikir lagi tentang kejadian itu dan jadi berfikir betapa kadang saya terlalu overdramatik dalam menghadapi kehidupan saya sendiri. Menghadapi ujian hidup sedikit saja sudah puyeng luar biasa. Merasa Yang Kuasa terlalu berat member cobaab dan sebagainya. Padahal sebenarnya masih banyak orang2 disekitar kita yang mendapat ujian jauh lebih berat. Seandainya saya jadi Si Ibu sanggupkah saya bersikap seperti dia ? Mungkin tidak, mungkin saya sibuk menyalahkan diri sendiri atau menuntut rumah sakit yang sudah berlaku sembrono itu .. hah tidak terbayangkan ..

Saya punya keluarga yang baik, meski bukan yang terbaik. Orangtua yang tidak pernah (lagi) protes pada jalan yang saya tempuh meski itu agak nyleneh,agak tidak berprospek dan agak2 yang lain. Dan seorang adik yang cukup pengertian kalo si kakak ini agak beda dari kakak2 yang lain dan suka ngrepoti (but I am a great sis to talks about football, doramas, movies and music right?? We have same taste about those right?? He he) Saya juga dikaruniai badan yang cukup sehat, tidak punya penyakit yang berbahaya dan bisa melakukan berbagai aktivitas dengan segala keterbatasan yang saya miliki.I have so many good things, but sometimes I just don’t realize those then complaint that my life is so hard and difficult. What an unthankfull person I am !!

Semoga setelah  ini saya tidak perlu melihat penderitaan orang lain untuk menyadari kalo saya termasuk orang yang diberkati dengan banyak kenikmatan. Saya harus banyak bersyukur atas semua berkah yang saya dapat selama ini. Sedikit atau banyak. Karena ukuran kepatutan itu hanya Allah SWT yang tahu. Saya yakin setiap orang memiliki cerita hidupnya sendiri. Kesulitan sendiri2. Mungkin bagi orang lain si A terasa enak hidupnya, atau si B yang punya segalanya. Rumput tetangga memang terlihat lebih hijau dari halaman kita sendiri.Hidup adalah perjuangan tanpa akhir. If live gives you lemon then let makes lemonade. Just as simple as that (mudah diucapkan tapi agak sulit untuk diterapkan he he) 

 

Btw, seminggu ini saya lihat berita adik membunuh kakanya, ibu menggunting tangan bayinya sampai nyaris putus, ayah membunuh anaknya yang berumur 4 tahun… Astaghfirullah .. ada apa dengan dunia ini..

Advertisements

~ by zee on 2012/08/28.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: