Pertempuran 2 Pemanah : Arjuna & Karna


Ketika Bratayudha berakhir, yang tersisa hanya kesedihan…
Pandawa kehilangan semua anak-anak mereka
Destarata dan Gandari kehilangan Kurawa …
Dan Kunti kehilangan putra pertamanya, Karna, di ujung panah Arjuna, putra keempatnya …

Buku karangan Pitoyo Amrih ini secara tak terduga menawarkan sesuatu yang beda dari cerita-cerita wayang biasanya. Pendekatannya begitu humanis dan sarat emosi. Pembaca diajak untuk ‘terpaksa’ bersimpati pada Karna yang memihak Duryudana. Bagaimana tidak, sejak bayi Karna sudah dibuang ibunya karena dia anak gelap Kunti dan Dewa Surya. Dia yang keturunan Dewa terpaksa menjadi anak angkat seorang kusir istana. Durna tidak mau mengajarinya hanya karena Karna bukanย  satria. Padahal bakat yang dimiliki Karna tidak kalah dari Arjuna. Dia terombang-ambing sendirian. Merasa berbeda. Merasa kuat sekaligus hina. Dan di saat seperti itu hanya Duryudanalah yang menjadi pembelanya. Duryudana mengangkat Karna menjadi Adipati, bahkan menganggap seperti saudaranya sendiri. Bagaimana dia membalas hutang budi sebesar itu ? Hanya kesetianlah yang dia punya. Meskipun dia tahu, Kurawa bukan pihak yang benar.
Pembaca menjadi tidak bisa melihat Baratayudha sebagai perang kebajikan melawan kejahatan an sich. Tetapi juga sebuah ironi. Guru melawan murid, paman melawan keponakan, sepupu melawan sepupu… begitu menyedihkan. Pantas jika Arjuna menangis tak terhankan dan pada awalnya bersikeras tidak mau ikut berperang. Karena pada akhirnya siapapun yang menang, dia kan kehilangan …

Ketika membaca ini, tanpa terasa saya begitu terserap ke dalamnya. Sama sekali jauh dari bayangan kisah wayang yang membosankan. Malah terasa seperti novel yang sarat konflik. Rasanya tidak akan bisa berhenti sebelum membacanya sampai habis. Selama ini, kesan Kurawa selalu begitu jahat. Tapi ketika membaca buku ini, saya jadi sedikit bisa menganalisa mengapa Kurawa bisa tumbuh begiturupa. Destarata, bapak Kurawa, terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak berdaya menghadapai anak-anaknya. Begitu juga Ibunya, Gandari. Satu-satunya orang yang jadi contoh mereka adalah Si Culas bin Licik Sengkuni. Jadi ‘tangeh lamun’ alias mokal alias mustahil kalau berharap Kurawa bisa tumbuh jadi orang yang bijaksana. Belum lagi rata-rata Kurawa memang dilahirkan dengan otak yang agak lemot yang butuh perhatian Ekstra. Wajar juga kalau pas diajari Durna, kebanyakan Kurawa tidak bisa menerima pelajaran sebaik Pandawa. Seandainya orangtua para Kurawa bisa mendidik anaknya dengan baik, mencarikan guru yang lebih bermutu sekelas Bisma dan Durna, mungkin Kurawa bisa tumbuh lebih baik. Mungkin, jika saja Duryudana bisa bertemu wayang yang bijak dan mampu membimbingnya, dia bisa memimpin dengan benar adik-adiknya. Mungkin dia bisa bertemu seandainya dia mau mencari. Mungkin ..


Pandangan saya tentang Pandawa juga sedikit berubah. Pandawa tidak kelihatan lagi seperti Cinderela yang terus teraniaya Ibu Tiri. Sebaliknya Pandawa tampak lebih ‘manusiawi’. Mereka pernah menjadi pangeran2 manja ketika hidup di istana. Selama pengasingan di hutan lah justru Pandawa bisa tumbuh menjadi ksatria-ksatria dewasa yang bijaksana.
Saya justru jengkel setengah mati pada Samiaji alias Yudistira. Saya justru tidak terkesan dengan kejujuran, dan sifat (yg menurut mereka) ksatrianya itu. Dua kali permainan dadu. Dua kali dibohongi. Diam saja saat istrinya dianiaya orang lain di sepan matanya.Bagi saya itu sebuah KEBODOHAN besar. Sama sekali tidak mempunyai pertahanan diri. Sikap diamnya itu malah semakin membuat Kurawa merasa tinggi. Bukankah gara-gara itu akhirnya Kurawa semakin berani mengakui tahta mereka ?? Saya juga eneg membaca tentang Arjuna yang ‘Omnivora’. Dia samasekali tidak bisa menolak setiap perempuan (dari kalangan apapun mulai raksasa sampai jin) yang ingin menjadi istrinya. Dan anehnya para perempuan tetap saja antri menjadi istrinya. Meskipun Arjuna cuma ‘numpang lewat + nitip anak’, tapi mereka tetap saja bangga menjadi istri Arjuna.
Kunti, Ibu Pandawa yang dianggap suci juga ternyata tak sebaik citranya. Dia jelas-jelas punya affair dengan Batara Surya. Dia membuang anaknya ke sungai. Dan ketika anak terbuang itu ada dalam jangkauannya. Tidak sedikitpun dia menunjukkan itikad baik untuk mengakuinya. Baru ketika semua sudah sangat terlambat. Ketika Baratayudha sudah diputuskan, dia mengakui Karna dan berharap Karna ada di pihak Pandawa. Benar-benar sesuatu yang sia-sia.
Sedikit melintas di benak saya, bukankah sebenarnya Hastina memang milik para Kurawa, karena ayah mereka Destarata adalah putra sulung kerajaan Hastina ? Sementara Pandu, ayah Pandawa, menjadi raja karena menggantikan Destarata yang buta. Buat apa mereka berebut Hastina, sementara masing-masing Pandawa telah memiliki kerajaan yang tak kalah luas dan hebat ?? Jika saja Bisma dan sesepuh Hastina mampu meluruskan Kurawa, mungkin Baratayudha tidak perlu terjadi. Tapi mungkin benar kata Krisna, Baratayudha ada sebagai pameling, tetenger kebaikan dan kejahatan. Dan segala konflik yang melingkupinya.
Akhirnya, buku ini memberi banyak pelajaran tentang kehidupan yang memang tidak sederhana. Ketika seseorang tumbuh dan berkembang, dia sangat dipengaruhi oleh banyak hal. Bagaimana dia dibesarkan, lingkungan tempat dia tumbuh dan orang-orang yang dia temui dan dijadikan kawan. Jadi ingat perkataan Sakuma san di Nodame Cantabile, bakat besar tidak lah cukup untuk mengarungi kehidupan, tapi bertemu dengan orang-orang yang baik dan kesempatan juga diperlukan untuk meraih sebuah keberhasilan.
Akhirnya (lagi) tergantung kita, mampukah kita mengambil pelajaran kehidupan yang terserak itu ..
Uhhmm … jika boleh berandai-andai, jika Batara Wisnu tidak curang dengan mengambil baju pelindung milik Karna, bagaimana duel dua wayang pemanah hebat ini ? Apakah Arjuna tetap menang ?? ..

Advertisements

~ by zee on 2012/02/01.

14 Responses to “Pertempuran 2 Pemanah : Arjuna & Karna”

  1. Yup… Saya dari dulu heran kenapa walau sakti pandawa diam saja melihat bini nya di telanjangi didepan muka, bukankah sikap ksatria adalah pembela yang lemah. Tapi saya salut pada tokoh karna kenapa dari dia saya belajar bahwa kesetiaan dengan janji adalah watak laki2 sejati

    • makasih sudah berkunjung ๐Ÿ™‚
      ya begitulah.. pandawa memang aneh

    • Jelas2 pembela yg salah. Kok dikagumi. Yg hrs dijadikan prinsip adalah kebenaran Dan keadilan, bukan kesetiaan akan janji saja. Janji jgn hrs mengandung unsur kebenaran Dan keadilan

      • Sbnarnya kbenaran di atas segalanya,,,, baju karna tu baju pinjaman klo arjuna bajunya sendri jadi pants klo itu di ambil…. dn masih untung dia dpat tukaran senjata panah kunto yg msih bisa bunuh gtot kaca n abimanyu, klo tidak dy cuma bisa berkoar doang kyak sakuni.ha ha ha ha…….

  2. Karna I love U Full, aku mengagumi melebihi semua tokoh pandawa

  3. dari sekian banyak tokoh pewayangan. yang saya kagumi memang Karna. walaupun banyak versi berbeda terkait hubungan antara Karna dan Arjuna. tetapi ketika membaca kisah Karna seakan akan saya yakin bahwa Karna pihak yang dirugikan ketika berperang melawan Pandawa. Selain itu saya yakin kesaktiannya melebihi Arjuna dalam epos Mahabharat.

  4. kalo mo beli bukunya masih ada g? dmn?

  5. Biar adil baju ny harus di ambil donk, sportip sama2 gak pake pelindung

    • malahan,, setiap battle sebelum perang arjuna dengan gandiwa pemberian dewa agni yg sakti tapi bisa di imbangi dengan panah biasa Karna, walaupun Karna ada pelindung, saya kira itu udah sportip. nah, kalo pas perang, Karna dirugiin, baju pelindung diambil dan dia sendirian, panah kunto juga udah dipake buat gatot kaca, tapi kalo Arjuna kurang sportip karena dia kusirnya Krisna yang berkali kali nolongin Arjuna yg hampir kena panah sakti nya Karna.coba Krisna ga ikutan jadi kusir, belum tentu Arjuna menang. dan itupun Karna masih bisa bertahan, belum kalah, dan Karna dibunuh arjuna pun saat lagi ngedorong kereta. jadi, Karna itu lebih unggul mas Umar Tauhid

  6. dlm cerita Gatutkaca anak Bima mati karena panah kunto milik Karna, Abimanyu anak Arjuna juga mati dikeroyok oleh Kurawa lalu diakhiri oleh Karna,
    Saya kira sudah sepantasnya jika Karna harus menanggung akibatnya walaupun pengorbanannya banyak, namun kesengsaraan dan perlakuan tak beradab juga dilakukan oleh Karna.,

  7. trimakasih para komenter .. maaf kalo ga bisa langsung nanggapi. setahun ini saya off dr blog he he he ..
    kalo menurut saya perbedaan besar arjuna dan karna adalah orang2 yang ada di sekelilingnya, yg akhirnya membentuk prilaku mereka.. karna mmg sejak awal lebih keras kepala dan agak sombong .. sedangkan arjuna lemah lembut.. apa mereka bakal berbeda kalau seandainya ditukar tempat ? mungkin saja ๐Ÿ™‚ thanks

  8. Kisah yang paling mengharukan sebenarnya adl Bhisma yg seharusnya mjd raja ttp memilih utk mjd penasehat kerajaan demi kesehatan sang Ayah (Santanu) dan bersumpah lajang sampai mati agar tdk mempunyai keturunan yg suatu saat menagih tahtanya mjd raja, Destrarasta yg gara2 buta gagal mjd raja seutuhnya dan Karna yg dr kecil ingin menjadi kesatria yg d’akui oleh semua orang ttp malah d’ejek oleh pihak pandawa. Jujur Saya terharu dg cerita Karna yg sesungguhnya…@Karna is the best

  9. Kalau baju karna tidak diambil malah disitu letak ketidak adilanya, sebab ada campur tangan dewa itu sendiri, sebab tameng karna berupa baju dan anting anting adalah wujud dari perlindungan dewa surya sendiri
    Dengan diambilnya campur tangan dewa itu menurut saya itu malah menjadi adil, fair manusia melawan manusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: