REVIEW : MARGIN CALL (2011)


Sebuah perusahaan keuangan mengadakan pengurangan karyawan besar-besaran untuk menghadapi krisis. Salah satu yang terkena adalah Eric Dale, kepala bagian manajemen resiko. Eric yang merasa sudah bekerja maksimal merasa tidak puas dengan pemecatannya. Sebelum pergi, Eric menyerahkan sebuah flashdisk pada Peter Sullivan, seorang pialang junior. Flashdisk itu berisi permodelan resiko perusahaan. Ketika Peter menyelesaikan permodelan itu, dia sangat terkejut karena ternyata perusahaan diambang kebangkrutan karena nilai limit modal melampaui batas normal yang akan menghancurkan nilai saham. Peter pun menghubungi Seth, rekan sesama pialang junior dan Supervisornya Will.

Kaget dengan apa yang ditemukan dua anak buahnya, Will langsung menghubungi Sam Rogres kepala bagian penjualan. Efek domino berlanjut. Sam menghubungi kepala penasehat resiko dan sekuritas hingga akhirnya menghubungi bos besar, CEO perusahaan tersebut John Tuld. Setelah melalui perebatan alot akhirnya diputuskan untuk menjual semua saham yang beresiko itu untuk menyelamatkan diri dari kehancuran total. Semua karyawan diiming-imingi bonus 7 digit jika bisa menjual 93% saham yang ada. Sebuah bonus yang sangat besar dengan resiko yang besar pula, mereka tidak akan pernah dipercaya sebagai pialang saham lagi karena telah menghancurkan kepercayaan klien dengan menjual sesuatu yang tidak ada nilainya.

Diilhami bangkrutnya beberapa perusahaan keuangan besar di Amerika ( Lehman Brothers dkk ), JC Chandor (penulis skenario sekaligus sutradara) menulis cerita ini. Hanya dengan budget 3 jutaan dollar, Chandor mampu membuat film yang cukup berkualitas meski mungkin bukan sesuatu yang umum untuk ditoton. Bahkan bias jadi sangat membosankan untuk sebagian orang.

Awalnya saya tertarik melihatnya karena deretan aktor yang mendukung. Mulai Kevin Spacey, Jeremy Irons, Demi Moore plus Paul Bethany. Kelihatan sangat menjanjikan. Dan ketika pertama kali saya lihat o oww .. ternyata bukan film seperti bayangan saya. Rumit dan sukar dimengerti. Penuh dengan istilah-istilah ekonomi. Meski demikian harus saya akui kalau film ini ditulis dengan baik, dialog2 yang cerdas, kadang sarkastik. Alkting pemainnya juga jempolan. Walaupun saya harus berusaha keras menghilangkan bayangan Sylar ketika melihat acting Zachary Quinto.

Film ini menunjukkan kita pada kejahatan yang telah dilakukan perusahaan2 keuangan besar di Wallstreet yang secara sengaja dengan egois mengambil langkah penyelamatan diri sendiri meskipun mereka tahu bahwa langkah itu akan memicu krisis nasional bahkan internasional. Keserakahan kapitalis sejati diwakili oleh CEO Tuld yang diperankan Jeremy Irons. Dia bener2 butatuli pada sekitarnya. Tidak peduli bahwa dia telah menghancurkan banyak orang dengan menjual saham yang tidak ada nilainya. Tuld bahkan tidak peduli kalau keuangan nasional hancur.

Tidak aneh jika setelah membintangi film ini, Penn Badgley ikut turun mendukung Occupy Wallstreet. Sebuah gerakan yang menuntut Pemerintah AS untuk lebih memperhatikan rakyatnya yang miskin dibanding para penjahat kerah putih di Wallstreet. Yang nyata-nyata menjadi penyebab krisis ekonomi karena keserakahannya.

Overall, film ini memang cukup berat tapi bisa memberikan kita pengetahuan yang baru. Jadi recommended lah .. terutama buat ahli ekonomi dan orang yang suka main valas ato saham … O ya .. sebagai rekomendasi, bias dilanjutkan dengan nonton The Company Men. Yang menceritakan orang-orang yang mengalami PHK besar-besaran akibat krisis ekonomi.

Advertisements

~ by zee on 2011/12/17.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: