THE ROAD : Because we’re carrying the fire


You forget some things, don’t you?

Yes. You forget what you want to remember and you remember what you want to forget

 The Road – Cormac McCarthy

Kehidupan manusia nyaris lenyap. Kematian dan bencana ada dimana-mana. Hanya sedikit orang yang bertahan. Mereka harus berjuang melawan udara dingin dengan sumber makanan yang terbatas. Kepedulian menjadi sesuatu yang langka. Semua menjadi egois demi bertahan hidup.

Seorang ayah dan anak lelakinya berjalan menuju selatan dengan keyakinan bahwa udara selatan lebih hangat. Mereka terus berjalan meski dengan perbekalan seadanya. Kadang mereka harus menahan lapar berhari-hari. Tapi kadang mereka juga cukup beruntung menemukan makanan kaleng yang tertinggal di rumah-rumah tak berpenghuni. Ibu anak lelaki itu sudah lama menyerah pada nasib, meninggalkan mereka entah kemana. Kemungkinan besar Ibunya sudah mati. Hanya Sang Ayah yang memiliki keyakinan bahwa selalu ada harapan untuk hidup, hingga dia mengajak anak lelakinya untuk melakukan perjalanan ke selatan.

Perjalanan itu sendiri tidaklah mudah. Ada lebih banyak orang jahat yang siap membunuh untuk merampas barang mereka atau lebih parah lagi, memakan mereka. Belum lagi cuaca yang sangat tidak bersahabat. Ada banyak hal yang mereka hadapi selama melakukan perjalanan tersebut dan ikatan mereka sebagai ayah dan anak menguat seiring rintangan yang mereka hadapi bersama. Sang Ayah, meskipun kadang menangis dan hampir menyerah, selalu menemukan semangat hidup setiap melihat anak lelakinya. Sementara Sang Anak, yang kadang bertanya-tanya dan tidak mengerti kenapa ayahnya berbuat ‘jahat’, belajar untuk hidup dan menghargai kehidupan itu sendiri. Sebuah perjalanan yang luar biasa.

Depressing, absolutely depressing but beautiful

Jika saja seorang teman tidak pernah menyarankan untuk membaca The Road, mungkin seumur hidup saya tidak akan pernah membaca novel ini. Karena yang seperti ini sama sekali bukan favorit saya (Apa kabar Anna Karenina ? Kapan bisa nutug membacamu yang 766 halaman itu ya ?? J )Tapi dengan garansi bahwa novelnya tidak begitu panjang dan ceritanya bagus saya pun membacanya. Mungkin saya seharusnya mendengarkan peringatan, kalau membaca novel ini bisa membuat perasaan kita campur aduk. Dan benar saja, itulah yang kemarin saya alami.

Sejak kalimat pertama, saya terkesan dengan cara McCarthy menggambarkan suasana cerita. Udara yang dingin dan lembab, kegelapan, bayangan pohon, sungai, gunung bahkan rumah-rumah yang ditinggal penghuninya digambarkan dengan bahasa yang bagus dan detil. Mirip puisi. Saya memang tidak begitu mengerti sastra Inggris tapi pemilihan kosakatanya sangat menarik. Padahal yang dia gambarkan adalah sesuatu yang suram dan tidak menyenangkan. Uniknya lagi McCarthy menamai karakternya dengan sederhana, The Father  dan The Boy.

Sejak awal cerita kita diajak untuk ikut petualangan ayah dan anak ini menuju selatan. Berdebar-debar tiap kali mereka masuk rumah kosong, penasaran dengan apa yang akan mereka temukan disana. Ikut cemas ketika mereka berpapasan dengan gerombolan orang jahat. Atau kadang terbawa putus asa saat sang ayah secara sembunyi-sembunyi tiap malam pergi menjauh karena tidak ingin anaknya tahu dia sakit hingga batuk darah. Dialog antara ayah dengan anak sangat manusiawi dan sarat makna. Begitu juga dialog-dialog dengan tokoh yang lain. Karakternya ayah dan anak tersebut juga sederhana. Sosok Ayah yang melindungi dan sanggup melakukan apa saja untuk anaknya, dan seorang anak laki-laki yang kadang membenci ayahnya, tapi juga menyayangi dan bergantung penuh padanya.

Saya benar-benar dibuat lelah, sedih dan terus bertanya kapan perjalanan ini berakhir dan mereka menemukan tempat untuk hidup yang layak. Bahagia selamanya mirip cerita dongeng. Tapi rupanya McCarthy lebih suka bikin pembacanya merana. Emosi kita justru akan habis diaduk-aduk diadegan-adegan terakhir. Ketika Sang Ayah terkena panah hingga infeksi, semakin lemah dan semakin parah …

Satu hal yang saya pelajari dari novel ini adalah kemampuan manusia untuk bertahan hidup bisa sangat luar biasa …

Well, I think we’re still here. A lot of bad things have happened but we’re still here. You dont think that’s so great ?

Advertisements

~ by zee on 2011/11/18.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: