Kartini


Selamat Hari Kartini … Perempuan Indonesia

Setiap kali mendengar Hari Kartini, di kepala saya langsung terbayang karnaval busana daerah, lomba masak, merangkai bunga, pemilihan putri kebaya dan sejenisnya …

Bagi saya, Kartini adalah seorang perempuan cerdas yang bisa mendudukkan dirinya sebagai seorang perempuan, anak, istri, ibu sekaligus anggota masyarakat yang baik. Sesuatu yang sangat jarang bisa dilakukan bahkan oleh para wanita modern saat ini.

Kartini seorang anak yang berbakti. Buktinya, dia bisa menerima dengan lapang hati apa yang ditetapkan oleh orangtuanya. Ketika timbul sedikit pemberontakan dalam dirinya, semua dilakukan dalam koridor yang benar. Tidak ada mogok makan, minggat dari rumah atau membangkang pada orangtua. Dengan kecerdasannya, beliau beradu argumen dengan orangtuanya. Membangun komunikasi sehat hingga tercapai jalan keluar. Orangtua Kartini tergerak karena Kartini menunjukkan pada mereka alasan yang benar jika beliau tidak menyetujui atau memprotes sesuatu.

Kartini juga seorang istri yang berbakti. Beliau bisa mengatur rumah tangga dengan baik. Kartini tidak pernah merasa lebih dari suaminya atau merasa hina karena dipimpin suami dalam rumah tangga. Beliau mendudukkan diri sebagai istri, pendamping suami. Jadi tidak heran kalau suaminya selalu mendukung rencana-rencana Kartini. Suaminya bisa menjadi partner aktif istri dalam mewujudkan cita-citanya. Menjadi pelindung. Saya yakin, tanpa kesadaran akan fungsi dan kedudukan masing-masing, mustahil kerjasama suami istri ini bisa terjadi.

Kartini juga menjadi Ibu terbaik bagi anak-anaknya. Beliau mengandung dan melahirkan dengan sukacita. Merawat anaknya dengan baik. Beliau benar-benar memahami posisinya sebagai Ibu, pendidik utama dan pertama anak-anaknya. Kartini menyadari bahwa seorang Ibu harus cerdas, karena seorang ibulah yang paling dekat dan yang mengajarkan kehidupan pada anak mulai dari hari pertama mereka lahir ke dunia.

Dan yang lebih hebat lagi, Kartini menyadari betul bahwa dia adalah anggota masyarakat yang harus berperan aktif dalam perbaikan masyarakat. Dengan posisi sebagai seorang ningrat dan istri bangsawan, Kartini tidak menjadi manja dan tenggelam dalam kenikmatan dunia. Dia tidak lupa pada para perempuan yang kurang beruntung, yang tidak bisa mendapatkan pendidikan seperti dirinya. Beliau tetap peduli dan mau bersusah payah mendirikan sekolah untuk perempuan. Padahal, seandainya belaiu tidak melakukan apa-apa pun, hidupnya sudah sangat nyaman dan berkecukupan. Tapi Kartini tidak pernah berfikir seegois itu. Beliau menyadari segala kelebihannya dan menggunakan kelebihan itu untuk membantu sesama.

Bagi saya KARTINI BUKANLAH PEJUANG EMANSIPASI PEREMPUAN. Kartini memang lahir dari kondisi dimana perempuan dianggap makhluk kelas dua dibawah laki-laki. Tetapi Kartini tidak pernah menganggap kalau perempuan harus mengalahkan laki-laki. Perempuan harus setara dengan laki-laki di berbagai bidang. Kartini menyadari bahwa perempuan dan laki-laki itu berbeda. Ada kekhasan tersendiri dalam penciptaan laki-laki dan perempuan. Itu adalah kenyataan yang tidak terbantahkan. Bagi Kartini, kelemahan perempuan bukanlah sesuatu yang menjadikannya hina. Sebaliknya kekuatan laki-laki tidak menjadikannya lebih mulia. Karena baik laki-laki dan perempuan sama kedudukannya sebagai manusia.

Kartini terlalu mulia kalau disandingkan dengan ‘pejuang’ penuntut kesetaraan buta. Yang menganggap laki-laki adalah musuh yang harus dikalahkan, hingga melupakan kodrat sebagai perempuan. Kartini menyadari bahwa perempuan/istri adalah rekan suami dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Karena itulah beliau mendirikan sekolah putri yang mendidik para istri dan perempuan supaya menjadi cerdas, mampu menjalankan tugas sebagai istri dan ibu dengan baik. Kartini tidak pernah menganggap kalau kepemimpinan suami dalam rumah tangga adalah bukti ketertindasan perempuan.

Terus terang saja, bagi saya, kesetaraan gender adalah hal bodoh yang akan sia-sia saja diperjuangkan. Sebuah ide utopis yang tidak akan mampu menjadi solusi permasalahan. Apanya yang harus disetarakan? Bisakah disetarakan? Perempuan dan laki-laki diciptakan Allah SWT dengan kekhasannya masing-masing. Ada hal-hal mendasar yang berbeda baik secara fisik maupun psikis dalam diri laki-laki dan perempuan. Sesuatu yang bersifat kodrati dan tidak bisa dihindarkan. Kalau kita secara paksa, menyamakan keduanya, yang terjadi hanyalah hal-hal konyol yang saling bertentangan.

Coba ingat beberapa hal menarik yang pernah diperjuangkan untuk disetarakan. ‘Pejuang’ perempuan menuntut kesamaan perlakuan antara pekerja laki-laki dan perempuan. Dalam hal gaji, tunjangan dll. Tetapi mereka juga menuntut adanya cuti hamil, cuti haid dan ruang menyusui bagi pekerja perempuan. Bertentangan bukan? Kenapa bisa demikian? Karena bagaimanapun juga perempuan tetap perempuan, dan laki-laki tetaplah laki-laki.

Atau yang lebih konyol lagi, ide kuota 30% anggota legislatif untuk perempuan. Di satu sisi mereka menggembar gemborkan ide kesetaraan tapi kenapa perempuan tidak mau bersaing sehat? Kenapa meminta kuota 30% ? Benarkah kalau anggota legislatifnya banyak perempuan, bisa mengatasi berbagai persoalan perempuan yang ada ? Saya kok tidak yakin …

Barusan saya menonton Mata Najwa di Metro TV. Rasanya agak tidak masuk akal ketika mereka membahas tentang perilaku bias gender yang menurut saya tidak penting banget. Bagaimana tidak, perilaku bias gender menurut mereka adalah : menyerahkan urusan parkir dan kendaraan ke laki-laki, menyuruh laki-laki membawa barang belanjaan, meminta laki-laki untuk mengusir serangga dan hal-hal tidak penting lainnya. Saya jadi heran. Buat apa mempertanyakan hal yang remeh temeh gitu. Kenapa perempuan harus masak, harus mencuci baju, harus belanja, harus menjahit. Mungkin kalau semakin parah, akan dipertanyakan, kenapa perempuan harus hamil, melahirkan dan menyusui…

Energi para ‘pejuang’ ini terkuras oleh hal-hal yang tidak penting semacam itu dan mereka mengatakan sebagai penerus Kartini ?? Sementara perbuatan Kartini jauh lebih besar, yaitu memperjuangkan pendidikan perempuan dengan dilandasi kesadaran dan niatan mulia ?? Sedangkan mereka sudah heboh gara-gara laki-laki lebih sering diminta mengusir serangga ?? Aneh !!!

Mungkin ini pertanyaan yang sejak dulu ingin saya tanyakan pada orang-orang dan perempuan ‘pejuang’ kesetaraan gender, Benarkah semua permasalahan perempuan yang ada saat ini karena masyarakat menganut sitem patriarki yang menganggap perempuan lebih rendah dari laki-laki? Dan bisakah semua persoalan ini selesai jika laki-laki dan perempuan sudah setara seperti yang anda-anda perjuangkan?

Patriarki memang salah. Tapi saya pikir terlalu sempit dan sederhana kalau kita menganggap permasalahan yang dihadapi perempuan saat ini karena laki-laki dan perempuan ‘tidak setara’. Kehidupan terjadi karena interaksi antara manusia sebagai anggota masyarakat yang hidup dengan aturan tertentu. Maka, ketika ada yang tidak beres, kita tidak bisa melihat hanya dari sudut pandang perempuan atau laki-laki saja. Karena, cara pandang seperti itu tidak bisa menyelesaikan pokok persoalan. Jutru hanya menambah masalah baru yang semakin memperumit masalah sebelumnya.

Soal KDRT misalnya. Benarkah pangkal persoalan adalah lemahnya daya tawar perempuan yang tidak bekerja, yang tidak memiliki penghasilan sehingga diremehkan dan suami merasa boleh memperlakukan istrinya seenaknya? Jika melihat dari sudut pandang ini, maka solusinya mudah saja. Perempuan harus keluar rumah dan bekerja. Selesaikah persoalan? Ternyata tidak juga … Justru timbul masalah baru. Rumah tangga tidak terurus dengan baik, anak-anak kurang kasih sayang dan berbagai hal merugikan lainnya. Nah loh !!

Seharusnya kita tidak melihat KDRT sebagai masalah perempuan yang harus diselesaikan. Tetapi melihatnya sebagai MASALAH YANG HARUS DISELESAIKAN. Itu saja. Tidak dengan sudut pandang perempuan tetapi melalui SUDUT PANDANG SEBAGAI MANUSIA. Kalau kita mau jujur, meskipun kebanyakan korban KDRT adalah perempuan, bukan berarti tidak ada korban KDRT yang laki-laki kan?

Dengan memandangnya sebagai permasalahan manusia yang perlu diselesaikan, kita bisa melihat fakta dengan lebih adil dan menyeluruh. Solusi yang diberikan akan benar-benar menyentuh akar persoalan. Dengan cara pandang itulah seharusnya kita menyelesaikan semua persoalan yang ada saat ini, baik yang menimpa laki-laki maupun perempuan. Dalam masalah KDRT misalnya, kita akan melihat kalau adanya kekerasan tersebut bisa timbul dari ketidakfahaman akan peran dan tugas suami istri, didukung keadaan lemahnya keadaan ekonomi sehingga mudah terpancing emosi. Solusinya tentu lebih komplek karena bisa sampai menyangkut kebijakan penyediaan lapangan kerja, pendidikan, kontrol sosial dan sebagainya.

Begitu juga untuk menyelesaikan ‘persoalan perempuan’ yang ada saat ini. Banyaknya legislator perempuan bukanlah jaminan dan solusi masalah tersebut. Tetapi apa yang ada di kepala para legislator terhormat itu. Adanya niat baik untuk menyelesaikan persoalan masyarakat. Karena apa yang sering disebut ‘permasalahan perempuan’ ini sebenarnya juga dialami laki-laki. Berhentilah menganggap itu hanya masalah perempuan. Lihatlah masalah sebagai masalah. Titik …

Maka tidak seharusnya, kita berbangga hati jika ada perempuan yang bekerja sebagai tukang becak, kuli batu dan pekerjaan maskulin lainnya. Mereka melakukan itu karena keterpaksaan. Tuntutan hidup. Bukan karena ingin sejajar dengan laki-laki, tapi karena itulah pekerjaan yang tersedia buat mereka. Kita seharusnya sedih dan berupaya bagaimana mereka bisa  kembali ke ‘habitatnya’.

Akhirnya, untuk mengakhiri tulisan yang sudah teramat panjang ini (tanganku sudah kaku, dan mata juga ngantuk) saya ingin menegaskan bahwa TIDAK ADA YANG PERLU DISETARAKAN. Perempuan dan laki-laki adalah makhluk yang memiliki kekhasannya masing-masing. Jika kita menyadari dengan benar apa tugas, hak dan kewajiban kita masing-masing … Insya Allah tidak akan ada overlapping, tidak ada  pihak yang merasa kalah atau menang. Dikuasai atau menguasai …

Dan mungkin ini tantangan buat perempuan yang membaca tulisan ini, terutama diri saya sendiri … mampukah kita jadi perempuan seperti Kartini ???

by zee – grs200411

Advertisements

~ by zee on 2011/04/21.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: