OALAH DIN … DIN …


 

Sang Raja Nurdin HAlid

Ketika Jenderal George Toisutta dan Raja Minyak Arifin Panigoro terdepak dari daftar calon Ketua Umum PSSI, masyarakat bola tanah air langsung ribut. Bagaimana tidak, dengan tersingkirnya dua calon itu, bias dikatakan PSSI akan kembali dikuasai Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie. Meski protes mengalir dimana-mana, toh panitia seleksi tetap ngotot bahwa keputusan yang diambil sudah sesuai. Dan mereka yang tidak lolos memang tidak memenuhi kriteria untuk menjadi calon ketua umum PSSI. Tim sukses GT & AP pun tidak tinggal diam. Mereka segera menyusun langkah-langkah yang biasa ditempuh pihak-pihak yang kalah di negeri ini. BANDING.

Sebenarnya keputusan tim seleksi itu bisa dimengerti. Kenapa ? Lah jelaslah … kalo seluruh panitia seleksi adalah orang-orangnya NH mana mau mereka ambil resiko meloloskan orang-orang yang jelas punya kesempatan besar untuk mengalahkan tuannya. Bunuh diri namanya kalau mereka sampai melakukan itu. NH & NW tentu akan berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga tahta yang telah mereka kuasai. Jadi sebenarnya sejak awal keputusan itu bukanlah hal yang luar biasa.

Saya tidak tahu keputusan itu benar atau salah. Saya bukan pengamat PSSI dan tidak mengerti aturan persepakbolaan. Tapi yang menarik kita lihat disini satu lagi kejadian yang menunjukkan bahwa orang-orang di negeri ini sudah putus urat malunya kalau sudah menyangkut kekuasaan. NH memakai cara-cara licik dan culas untuk mempertahankan statusnya sebagai penguasa PSSI. Panitia pemilihan tidak malu lagi memelintir peraturan2 FIFA untuk menggagalkan calon lainnya. Humas PSSI malah menegaskan kalau keputusan itu sudah benar2 final dan tidak bisa diintervensi oleh siapapun, termasuk menpora, karena itu berarti melanggar (lagi-lagi) peraturan dari FIFA. Luar biasa.

Di negeri ini, jabatan ketua (apapun) menjadi rebutan. Saya ingat Pemilihan Ketua GP Anshor yang kebetulan dilaksanakan di Asrama Haji Sukolilo Surabaya tahun lalu. Begitu sengitnya persaingan sampai-sampai tiap tim sukses memberi penginapan yang ‘lumayan’ bagi para pendukungnya. Tentusaja itu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Saya sampai bertanya-tanya dalam hati, Gaji jadi Ketua GP Anshor itu berapa sih ??? Sayangnya pertanyaan ini sampai sekarang tak terjawab. Karena ‘Gila Kuasa’ ini pula fenomena pencalonan kerabat sangat marak pada PILKADA tahun lalu. Ada anak Bupati nyalon menggantikan Bapaknya, Adik menggantikan Kakaknya, bahkan istri pertama dan kedua kompak nyalon menggantikan suaminya. Malah ada beberapa kepala daerah yang nekat nyalon dengan posisi yang lebih rendah dari pangkatnya semula (karena dia sudah terpilih dua kali dan tidak boleh dipilih lagi). Alasannya supaya bisa melanjutkan pembangunan yang sudah dirintis. Haaahh ~ siapa yang percaya … Ternyata tidak hanya narkotika yang bisa membuat pemakainya kecanduan.

Padahal jadi penguasa itu tidak mudah. Tanggungjawabnya besar sekali. Dunia dan akhirat. Karena itu, jaman para Shahabat dahulu, orang yang diberi kekuasaan tidak pernah mengadakan syukuran. Justru mereka akan menangis tersedu. Mereka menyadari benar tanggungjawab sebagai pemimpin. Karena itu, pada jaman dulu ada cerita tentang Umar ra, yang memanggul gandum untuk warganya yang kelaparan. Ketika ajudannya menawarkan membawakan untuknya, beliau menjawab dengan sengit, “Memangnya kau bisa menggantikanku saat hari perhitungan nanti” Pemimpin dahulu begitu takut menggunakan harta Negara untuk kepentingan pribadinya, hingga ketika putra seorang khalifah berkonsultasi dengan ayahnya, sang ayah akan mematikan lampu jika yang dibicarakan adalah urusan keluarga. Seorang khalifah bisa tidak tidur karena dia menyadari, jika ada satu saja unta terperosok di negerinya (karena jalan berlubang) dialah yang bertanggungjawab kelak di akhirat.

Keimanan seperti itu tampaknya tidak dimiliki oleh penguasa kita saat ini. Mereka adalah penguasa bukan pemimpin. Karena seorang pemimpin selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik, member contoh dan menjaga sekaligus memelihara apa yang dipimpinnya. Sementara penguasa selalu berusaha memaksimalkan posisinya untuk kepentingan dirinya sendiri. Maka tidak heran, meski pekerjaannya kacau balau, DPR RI tidak sungkan menganggarkan pembangunan gedung baru. Toh mereka adalah penguasa. Sedangkan rakyat adalah pihak yang lemah, pihak yang dikuasai. Buat apa persetujuan rakyat.

Karena filosofi inilah Nurdin Halid menutup semua panca indranya pada suara-suara protes masyarakat. Prinsipnya anjing menggongging, kafilah tetap berlalu. Lalu apakah perjuangan ‘barisan sakit hati dan tidak puas’ akan sukses menggulingkan Sang Raja dari tampuk kekuasaannya. Kita tunggu saja …

Advertisements

~ by zee on 2011/02/23.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: